Infonetizen.com, JENEPONTO – Penggunaan KB vasektomi untuk laki-laki di Kabupaten Jeneponto, Sulawesi Selatan masih sepi peminat.
Berdasarkan laporan Dinas Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (DP2KB), belum ada pria di Jeneponto yang bersedia melakukan KB vasektomi.
Kepala Dinas DP2KB Jeneponto, Siti Meriam mengatakan program KB MOP ini memang tidak diminati laki-laki. Alasannya pun beragam.
“Untuk metode kontrasepsi jangka panjang bagi pria contoh MOP itu untuk tahun ini belum ada,” ujarnya, Rabu (19/11/2025).
Ia mengakui program ini terbilang sulit digalakkan kepada kaum laki-laki karena tingkat kemauan masih sangat rendah. Padahal, pihaknya aktif memberikan penyuluhan terkait vasektomi tersebut.
“Sosialisasi, promosi dan konseling KB gencar dilakukan tapi pria tahun ini belum ada yang mau,” akuinya.
Selain itu, pihaknya juga kerap mengampanyekan KB laki-laki tersebut setiap ada kunjungan hingga saat momen kegiatan. Namun karena tingkat ketakutan laki-laki terhadap vasektomi sangat tinggi, sehingga mempengaruhi cakupan.
“Kurangnya pengetahuan tentang kontrasepsi pria, sebagian besar pria tidak memahami bahwa vasektomi aman, efektif, dan tidak memengaruhi hormon,” jelasnya.
Menurutnya, KB menjadi tanggung jawab pasangan suami istri sehingga program itu tidak dibebankan kepada perempuan saja. Namun perlu adanya partisipasi laki-laki.
“Pelayanan keluarga berencana merupakan bagian dari hak reproduksi yang harus dilakukan oleh suami dan istri, jadi pelaksanaan KB bukan hanya menjadi tanggung jawab perempuan, tetapi merupakan kewajiban berpasangan yang harus direncanakan dan diputuskan bersama,” ungkapnya.
Kata Meriam, kalangan laki-laki saat ini hanya memiliki dua pilihan kontrasepsi, yakni kondom dan MOP atau vasektomi.
“Berbeda dengan perempuan yang memiliki banyak pilihan misalnya IUD, implant, pil, suntik, implant, dan lainnya.
Pilihan yang sedikit membuat pria kurang tertarik,” terangnya.
Namun, pihaknya akan terus melakukan sosialisasi, dan menargetkan pada tahun ini ada warga yang bersedia melakukan KB vasektomi ini.
“Sosialisasi MOP tidak boleh dihentikan, meskipun saat ini belum ada peminat. Justru dalam prinsip program Keluarga Berencana dan Percepatan Penurunan Stunting, ketika partisipasi rendah, edukasi harus diperkuat bukan dihentikan,” tandasnya.
