BARRU, Infonetizen.com — Kondisi jalan desa di Lala Bata, Kabupaten Barru, menuai sorotan publik. Pasalnya, jalan rabat beton yang dibangun pada tahun anggaran 2024–2025 dengan menggunakan Dana Desa kini sudah mengalami kerusakan parah, padahal proyek tersebut baru selesai beberapa waktu lalu.
Pantauan di lapangan menunjukkan, jalan yang menjadi akses penghubung antar desa itu kini tampak retak, terkelupas, dan material corannya mudah rapuh. Beberapa bagian bahkan terlihat batu koral terlepas dari permukaan jalan, memperlihatkan lemahnya kualitas konstruksi sejak awal pekerjaan.
Dugaan sementara, proyek jalan tersebut dikerjakan asal jadi dan tidak sesuai dengan spesifikasi dalam Rencana Anggaran Biaya (RAB). Temuan ini diperkuat dengan laporan warga dan hasil investigasi pemantauan Tim LSM Perak yang turun langsung ke lokasi pada Jumat (7/11/2025).
Salah seorang warga Desa Lala Bata yang enggan disebutkan namanya menuturkan bahwa sejak awal pekerjaan, material yang digunakan sudah diragukan kualitasnya.
“Jalan itu jauh dari standar, Pak. Kami orang awam saja bisa lihat kalau kualitasnya rendah. Campurannya pakai pasir dari air asin, jadi gampang rapuh. Padahal ini jalan poros penghubung antar desa,” ungkap warga kepada media.
Sementara itu, Koordinator Wilayah Barru LSM PERAK, Andi Rasda menyampaikan pihaknya akan mendalami dugaan adanya penyimpangan dalam proyek tersebut.
“Kami akan telusuri lebih jauh. Jika ditemukan adanya indikasi mark-up material atau pelanggaran spesifikasi teknis, kami akan meminta pihak Inspektorat untuk melakukan pemeriksaan dan menindaklanjuti permasalahan ini,” tegas Rasda saat diwawancarai di lokasi.
Meski demikian, LSM PERAK menegaskan bahwa seluruh temuan ini masih bersifat dugaan awal dan tetap menjunjung tinggi asas praduga tak bersalah. Artinya, pihak terkait dalam proyek pembangunan jalan tersebut belum tentu melakukan pelanggaran sampai adanya hasil pemeriksaan resmi dari pihak berwenang.
Di sisi lain, tokoh masyarakat setempat juga menyayangkan kondisi proyek yang baru seumur jagung namun sudah rusak.
“Jalan ini dibangun tahun 2025, tapi baru beberapa bulan sudah hancur. Kami berharap pembangunan seperti ini bisa dilakukan dengan mutu yang baik, supaya awet dan bermanfaat bagi masyarakat. Kalau dilihat kondisinya sekarang, rasanya proyek ini asal jadi,” ujarnya.
Warga juga menyoroti minimnya transparansi terkait nilai anggaran dan proses pembangunan jalan tersebut. Mereka berharap pemerintah desa dan instansi terkait dapat turun langsung untuk mengevaluasi dan memperbaiki proyek infrastruktur yang dinilai tidak sesuai harapan masyarakat.
(*)
