-1 C
New York
Senin, Februari 16, 2026

Buy now

spot_img

Catatan Pasca Konferwil ke-16 GP Ansor Sulsel. Pekerja Praktis dan Pekerja Keras: Pelajaran Demokrasi Internal Ansor

Infonetizen.com, Makassar — Konferensi Wilayah (Konferwil) ke-16 Gerakan Pemuda Ansor Sulawesi Selatan menghadirkan dinamika demokrasi yang matang dan penuh pembelajaran. Forum yang berlangsung dengan partisipasi 22 pemilik suara dari PC kabupaten/kota se-Sulsel itu menetapkan Ridwan Yusuf sebagai Ketua PW GP Ansor Sulsel periode 2026–2030 dengan raihan 12 suara, unggul tipis dari rivalnya, Salman, yang memperoleh 10 suara.

Keduanya merupakan kader terbaik Ansor dengan rekam jejak dan karakter kepemimpinan yang berbeda.

Salman dikenal sebagai figur pekerja keras dan kader lapangan. Dua periode memimpin PC Ansor Pinrang, ia juga pernah menjabat Komandan Banser serta Wakil Ketua Ansor Enrekang. Di struktur wilayah, ia dipercaya sebagai Kepala Asrendiklat Banser, sementara di tingkat pusat tercatat sebagai Kepala Biro Divisi Khusus Banser Tanggap Bencana. Konsistensi, loyalitas, serta kedekatannya dengan kader hingga akar rumput menjadi kekuatan utamanya.

BACA  Fatayat NU Makassar Serukan Kedamaian Usai Tragedi DPRD: Tolak Anarkisme, Utamakan Keselamatan

Namun dalam proses pencalonan, dinamika administratif menjadi salah satu tantangan. Sebagai bagian dari steering committee, penulis mencatat berkas pencalonan Salman sempat mengalami keterlambatan dan kekurangan administrasi yang harus segera dilengkapi dalam batas waktu yang ditentukan. Situasi tersebut berbanding terbalik dengan tim Ridwan yang lebih awal dan lengkap dalam menyerahkan dokumen pencalonan.

Di sisi lain, Ridwan Yusuf—akrab disapa Ridho Daeng Mone—tampil dengan pendekatan konseptual yang kuat. Dalam penyampaian visi-misi, ia memaparkan strategi pengembangan Ansor secara sistematis dan terstruktur. Latar belakangnya sebagai mantan Ketua PC Bantaeng dan profesinya sebagai ASN di sektor pendidikan membentuk gaya kepemimpinan yang cenderung top-down dengan pendekatan mentoring dan pengkaderan berbasis kompetensi.

BACA  Tiga Gugus Depan di Makassar Gelar PERSAMI Penggalang dan Pelantikan Ramu 2025

Perbedaan tipologi kepemimpinan inilah yang menjadi warna utama konferwil:

* Salman merepresentasikan pola bottom-up, kuat dalam kerja-kerja lapangan dan mobilisasi kader.
* Ridwan mencerminkan pola top-down, dengan penekanan pada perencanaan, pemetaan strategis, dan eksekusi terstruktur.

Keduanya adalah kader militan Ansor. Perbedaan pendekatan bukanlah jurang pemisah, melainkan modal sosial untuk memperkaya arah gerak organisasi.

Karena itu, tantangan awal kepemimpinan Ridwan dalam 100 hari pertama adalah merangkul seluruh potensi kader, termasuk tim rival. Rekonsiliasi internal harus ditempuh melalui pendekatan dialogis dan kolaboratif, memastikan tidak ada sekat pascakompetisi.

Kader-kader potensial dari kubu Salman perlu diakomodasi dalam jabatan fungsional yang memberi ruang kerja nyata dan otoritas sesuai kapasitasnya. Sinergi antara pekerja konseptual dan pekerja lapangan akan menjadi kekuatan strategis dalam membangun Ansor Sulsel yang solid dan progresif.

BACA  Efek Tambang Pasir Ilegal: Propam Polda Sultra Diminta Evaluasi Kinerja Polsek Watubangga

Konferwil ini bukan sekadar kontestasi, melainkan proses pendewasaan organisasi. Demokrasi internal telah berjalan, pilihan telah ditetapkan, dan kini saatnya seluruh kader bersatu.

Pada akhirnya, Ansor membutuhkan keduanya: konseptor yang visioner dan eksekutor yang militan. Kolaborasi tipikal kepemimpinan inilah yang akan memastikan keberlanjutan dan kemajuan GP Ansor Sulawesi Selatan ke depan.

Wallahul muwaffiq ila aqwamit thariq.

Oleh: Mahmud Suyuti, Dewan Senior GP Ansor Sulsel

Related Articles

Stay Connected

0FansSuka
0PengikutMengikuti
0PelangganBerlangganan
- Advertisement -spot_img

Latest Articles