Jakarta — Forum Jurnalis Ketahanan Pangan Nasional dan Gizi Indonesia (F-Jupnas Gizi) menghimpun laporan dari jaringan jurnalis daerah terkait sejumlah kejadian dugaan keracunan makanan pada penerima Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang terjadi di beberapa wilayah Indonesia pada Jumat, 6 Februari 2026.
Berdasarkan pemantauan lapangan, keterangan fasilitas kesehatan, serta konfirmasi pihak sekolah dan Posyandu, para penerima MBG dilaporkan mengalami gejala serupa berupa mual, muntah, diare, pusing, dan lemas beberapa jam setelah mengonsumsi makanan. Sebagian penerima manfaat harus mendapatkan penanganan medis di puskesmas maupun rumah sakit.
Hingga rilis berita ini diterbitkan, sedikitnya enam wilayah dilaporkan mengalami kejadian serupa dengan jumlah korban bervariasi.
Di Kabupaten Ketapang, Kalimantan Barat, sekitar 340 orang dilaporkan mengalami gejala dugaan keracunan di Kecamatan Marau. Korban terdiri dari siswa SD hingga SMK, guru, serta petugas MBG. Fasilitas kesehatan setempat membuka tenda darurat untuk menangani lonjakan pasien.
Sementara itu, di SMAN 2 Kudus, Jawa Tengah, sekitar 521 siswa dan guru dilaporkan mengalami gangguan pencernaan. Badan Gizi Nasional (BGN) menyampaikan hasil uji laboratorium yang mengindikasikan adanya kontaminasi bakteri pada makanan MBG yang dikonsumsi.
Kasus serupa juga dilaporkan di Kota Singkawang, Kalimantan Barat. Sebanyak 56 siswa MAN Model Singkawang terindikasi mengalami gejala keracunan, dengan sekitar 25 hingga 31 siswa mendapatkan perawatan medis. Dinas Kesehatan setempat telah mengambil sampel makanan untuk pemeriksaan laboratorium.
Di Kabupaten Jember, Jawa Timur, dugaan keracunan terjadi di SMPN 1 Umbulsari. Satgas MBG setempat mengeluarkan peringatan tertulis kepada pengelola dapur SPPG terkait dugaan pelanggaran prosedur pengolahan makanan. Hingga kini, jumlah korban masih dalam pendataan.
Adapun di Kabupaten Dharmasraya, Sumatera Barat, tercatat 154 siswa SMA 1 Sungairumbai mengalami gejala serupa. Selain itu, 12 santri dan guru Pondok Pesantren Nurul Izzah juga terdampak, sehingga total korban di wilayah tersebut mencapai sekitar 167 orang.
Kasus juga terjadi di Kota Palangka Raya, Kalimantan Tengah. Pada penyaluran MBG di Posyandu Harum Manis untuk ibu hamil, ibu menyusui, dan balita (3B), dari 102 penerima, tercatat 16 orang mengalami keluhan kesehatan. Sebanyak empat orang harus menjalani perawatan di rumah sakit.
Menanggapi rangkaian kejadian tersebut, F-Jupnas Gizi menilai perlunya langkah serius dan terukur guna memastikan keamanan pangan dalam pelaksanaan Program MBG. Beberapa rekomendasi yang disampaikan antara lain audit menyeluruh dapur MBG/SPPG, evaluasi prosedur penyimpanan dan distribusi makanan, peningkatan pelatihan higienitas bagi penjamah makanan, transparansi pelaporan insiden, serta penguatan pengawasan oleh otoritas kesehatan dan Badan Gizi Nasional.
F-Jupnas Gizi menegaskan bahwa perbaikan tata kelola program menjadi kunci agar tujuan utama MBG, yakni meningkatkan kualitas gizi masyarakat, dapat tercapai tanpa menimbulkan risiko kesehatan bagi penerima manfaat.
F-Jupnas Gizi menyatakan akan terus melakukan pemantauan dan menyampaikan perkembangan terbaru secara berkala kepada publik.